PemiluNEWS.com

Friday, Jul 11th

Last update07:58:58 PM

You are here: Home PEMILUKADA JAWA BALI DKI JAKARTA Pilkada DKI: Dukungan Rakyat vs Dukungan Parpol

Pilkada DKI: Dukungan Rakyat vs Dukungan Parpol

Seperti yang sudah diduga, akhirnya PKS memastikan diri untuk mendukung Foke-Nara dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Sebelumnya, Golkar sudah lebih dulu mengdeklarasikan dukungannya kepada calon gubernur petahana DKI Jakarta ini.

Jadi, kini dapat dipastikan ada enam parpol besar  yang berada di belakang Foke-Nara. Yakni, Partai Demokrat, PAN, Partai Golkar, PPP, PKB, dan terakhir  PKS. Sedangkanparpol-parpol pendukung  Jokowi-Ahok tidak berubah. Praktis tetap hanya dua, yakni PDIP dan Gerindra. Dikeroyok enam parpol besar tersebut, bagaimana peluang Jokowi-Ahok?

Apakah dukungan penuh enam parpol besar itu akan sejalan dengan dukungan warga DKI yang nanti memberikan suaranya pada 20 September 2012. Belum tentu. Bahkan saya berani memastikan, tidak!

Parpol-parpol itu boleh-boleh saja memainkan segala macam trik politiknya di tingkat elitnya, boleh-boleh saja dukung mendukung, berkoalisi, atau apa pun namanya, tetapi di lapangan pada akhirnya rakyatlah yang akan menentukan. Rakyat (warga DKI) kini sudah terlalu lama jenuh dan kehilangan kepercayaannya dengan parpol-parpol itu akibat dari ulah para kadernya yang manipulatif, koruptif, oportunis, dan hipokratif.

Rakyat (Jakarta) tidaklah lagi seperti anak kecil yang bisa dikasih permen lalu menuruti apa saja yang dikatakan si pemberi permen. Atau, anak kecil yang suka mendengar dongengan dari pendongeng, lantas percaya begitu saja, lalu mengikuti apa saja kata si pendongeng itu. Seolah-olah tidak mempunyai prinsip, pendirian, penilaian, dan pilihan sendiri.

Seperti yang sudah dikatakan banyak orang bahwa rakyat (Jakarta) sekarang sudah cerdas, mereka sudah punya prinsip dan penilaian sendiri untuk menggunakan rasionya dalam menentukan siapa yang lebih layak memimpin mereka. Tidak akan sudi lagi didikte oleh parpol-parpol, yang selalu manis di depan, pahit di belakang.

Maka, yang bakal terjadi di Pilkada DKI Jakarta ini adalah pertarungan bukan hanya antara dua pasang calon gubernur DKI Jakarta, yang didukung oleh parpol, tetapi adalah pertarungan antara suara rakyat dengan parpol. Rakyat (Jakarta) vs parpol.

Dukungan parpol nanti hanya berpengaruh di parlemen, tetapi tidak di pemilihan umum. Karena rakyat sepenuhnya akan memilih berdasarkan rasionya masing-masing. Parpol apa yang mendukung siapa, berapa banyak parpol yang mendukung calon tertentu, tidak lagi dilihat rakyat. Rakyatlah yang memilih, bukan parpol yang memilih.

Yang paling menentukan justru adalah para calon itu sendiri. Bagaimana rekam jejak mereka selama ini. Bagaimana prestasi, prestise, dedikasi, dan integritas mereka selama ini. Apakah jujur, bersih, benar-benar perduli rakyat banyak, ataukah manipulatif dan koruptif, dan hanya memanfaatkan rakyat demi karier politiknya. Rakyat sudah cerdas untuk bisa memberi penilaiannya, kemudian menentukan pilihannya.

Fenomena ini bisa terlihat pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta.

Foke-Nara didukung oleh Parpol penguasa, Partai Demokrat, dengan segala kelebihannya sebagai calon gubernur petahana, didukung oleh dana seolah tanpa batas, bisa dikalahkan oleh pasangan Jokowi-Ahok, yang bukan warga Jakarta, hanya didukung oleh PDIP dan Gerindra, dan dengan dana yang terbatas. Sesuai hasil audit akuntan publik KPU DKI Jakarta pada awal Agustus lalu, yang telah diumumkan, dana kampanye Foke-Nara adalah yang paling besar di antara semua pasangan calon, yakni Rp. 62.626.587.382, sedangkan pasangan Jokowi-Ahok di urutan keempat dengan Rp. 16.314.780.019.

Yang paling fenomenal adalah pasangan Alex Noerdin—Nono Sampono yang didukung oleh parpol sebesar Partai Golkar, plus PPP, dengan dana kampanye terbesar kedua, atau sebesar Rp. 24.680.122.600, bisa dikalahkan oleh pasangan independen (tidak didukung oleh satu parpol pun), yakni Faisal Basri-Baiem Benjamin, dengan dana kampanye hanya Rp. 4.158.625.868 (Kompas.com,03/08/2012).

Dari hasil di putaran pertama ini sudah terbaca bahwa peran parpol pendukung para calon sudah tidak terlalu signifikan lagi dalam pemilu. Yang paling signifikan adalah bagaimana rupa (rekam jejak) dari para calon itu sendiri. Apakah mereka benar-benar bisa mengambil hati warga Jakarta, bisa menyakini warga Jakarta bahwa merekalah yang layak dipercaya untuk dipilih untuk memimpin Jakarta lima tahun ke depan, ataukah tidak. Dan, untuk hal itu semua tidak bisa lagi dilakukan dengan main sandiwara ala para politikus seperti yang selama ini biasa dilakukan ketika musim kampanye tiba. Tiba-tiba menjadi pemurah, tiba-tiba murah senyum, tiba-tiba perduli pada nasib rakyat kebanyakan, tiba-tiba makan di warung kaki lima, tiba-tiba naik angkutan umum, tiba-tiba suka ke pasar-pasar tradisional, tiba-tiba suka mengunjungi pemukiman kumuh, dan seterusnya.

Kecerdasan rakyat sudah sudah tidak bisa dikelabui dengan akting-akting politikus seperti itu. Rakyat bisa membedakan mana yang asli, mana yang palsu.

Rasionalistas rakyat tidak bisa lagi dipengaruhi oleh para elit politikus, politik uang, pemanfaatan isu-isu SARA, atau cara-cara lain sejenis yang tak terpuji dan melanggar hukum.

Pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta itu, sesungguh sudah terlihat hasil suatu hasil pertarungan. Pertarungan antara suara rakyat melawan kehendak parpol. Dukungan rakyat versus dukungan parpol.  Fenomena ini akan terjadi terulang pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, 20 September 2012.

Jadi, silakan saja, Foke-Nara mengandalkan enam parpol besar itu, silakan saja parpol-parpol itu mendukung Foke-Nara, dan biarlah Jokowi-Ahok terus semakin dekat dengan rakyat (warga DKI Jakarta). Biarlah rakyat Jakarta yang mendukung Jokowi-Ahok, bukan parpol-parpol besar. Nanti, kita lihat hasil akhirnya di Pilkada DKI Jakarta, 20 September 2012. Saya yakin hasilnya pada intinya sama dengan hasil di putaran pertama. Jokowi-Ahok-lah yang pilihan rakyat Jakarta. Selisih perolehan suara Jokowi-Ahok  dibandingkan Foke-Nara akan lebih besar daripada hasil di putaran pertama. ***

Ditulis: Daniel Ht.
Sumber: http://politik.kompasiana.com/2012/08/11/pilkada-dki-dukungan-rakyat-vs-dukungan-parpol/

Foto: int

Jawa Barat

Jawa Timur

Papua

Kalimantan Timur

Bengkulu

SULAWESI UTARA

Sumatera Utara

Sumatera Selatan